Assalamualaikum Wr. Wb.
Kesempatan kali ini saya ingin menuturkan atau berbagi pengalaman tentang musibah yang saya alami. Semoga bermanfaat memberikan gambaran untuk memilih tindakan.
Saya telah mengalami kecelakaan sepeda motor pada tanggal 20 November 2016 pukul 07.00 WIB. di fly over arah permata hijau menuju senayan Jakarta. Saat itu saya berangkat dari Pamulang untuk mengantar isteri saya bekerja di ITC Permata Hijau lalu saya melanjutkan perjalanan untuk berolahraga ke Gelora Bung Karno Senayan.
Setelah terjadi kecelakaan, saya baru tersadar tanggal 22 November 2016 sekitar pukul 10 pagi. Ketika tersadar saya sudah berada di ruang perawatan Rumah Sakit ditunggui oleh isteri saya. Seketika saya shock dan bertanya berulang kali "Aku dimana, kaki aku kenapa?" Saat itu kaki saya sudah dibidai dengan tiga bilah papan. Isteri saya hanya bisa menjawab dengan menangis "Yang sabar ya sayang, paha kamu patah. Hari ini kamu akan dioperasi untuk pemasangan pen".
Saya tidak bisa merespon ucapan isteri saya karena hanya bisa merintih merasakan sakitnya kaki kanan saya.
Tidak lama kemudian datang seorang dokter yang ternyata seorang dokter spesialis saraf. Setelah menemui isteri saya, dokter itu bertanya pada saya: "Pak, kejadiannya dimana, lagi apa, mau kemana? Berkali-kali pertanyaan itu dikatakan, saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak ingat sama sekali. Setelah berusaha mengingat, sama sekali tidak ada gambaran apa yang terjadi sebelumnya pada saya, akhirnya sambil terus merintih saya hanya berkata "Nggak tau...".
Setelah beberapa pertanyaan lainnya, dokter menyatakan saya mengalami amnesia ringan, lebih tepatnya saya kehilangan ingatan mulai 1 jam sebelum terjadi kecelakaan sampai saya tersadar pada hari itu. Kemudian saya langsung diberikan tindakan CT-Scan pada kepala secara keseluruhan dan Alhamdulillah dokter menyampaikan bahwa otak, dan jaringan saraf semuanya dalam kondisi baik.
Sekitar pukul 3 Sore, datang adik-adik saya dan keluarga yang lain. Mereka semua menyarankan agar saya tidak dioperasi dan dibawa ke dukun ahli patah tulang saja dengan alasan biaya yang terjangkau dan biasanya lebih cepat sembuh. Tetapi saya menolak karena ada luka sobek pada kulit di bagian luar tulang paha yang patah. Selain itu saya terbayang rasa sakit yang luar biasa yang pernah saya alami saat pengobatan patah tulang kelangka (bahu) kanan saya yang pernah patah juga. Ketika itu bulan Oktober 2011 saya berobat di H. Naim. Memang sembuh dengan cepat dan dalam 1 bulan saya sudah tidak merasakan sakit dan beraktifitas normal kembali.
Tidak lama kemudian, saat kami sedang membahas hal tersebut, datang dokter yang akan melakukan operasi pembedahan tulang kepada saya (dokter spesialis bedah orthopaedi). Kakak ipar saya langsung bertanya kepada dokter tsb. "Gimana kalo gak dioperasi dok?" Dengan tegas dokter menjawab "Jangan. Kasihan masnya masih muda, kalo di tukang urut tulangnya bisa nyambung lagi tapi belum tentu bisa seperti semula. Kebanyakan yang diobati di dukun patah tulang itu kakinya jadi pendek sebelah atau nyambungnya melintir. Jadi jangan. Kasihan masnya masih muda." Itulah jawaban dokter yang sangat meyakinkan.
Pukul 7 malam pada hari itu juga, saya dijemput beberapa suster untuk dibawa ke ruang operasi. Saat itu saya dalam pengaruh obat penahan rasa sakit yang menyebabkan saya dalam kondisi setengah sadar, bahkan saya tidak sadar saat meninggalkan kamar perawatan. Sampai besok paginya pukul 9 pagi, saya baru bangun dan ternyata kaki saya sudah selesai dioperasi mulai pukul 7 sampai pukul 11 semalam.
Awalnya saya berfikir saya akan merasakan sakit yang sangat pasca operasi. Tetapi ternyata tidak. Saya hanya merasa kaki saya kaku dan ada benda yang menempel di paha saya dan menemukan luka sayatan sekitar 30cm di paha bagian samping.
4 hari setelah operasi saya diajarkan untuk menggunakan tongkat dan langsung bisa. Tanggal 26 November 2016 saya pulang dari rumah sakit dan harus bedrest selama masa penyembuhan di rumah.
Rasa sakit hanya saya rasakan pada saat bangun tidur sekitar pukul 5 subuh. Sakit itu bukan karena jahitan atau sayatan luka operasi tetapi kontraksi otot seperti berusaha ke bentuk semula. Saking kencangnya otot dipaha meregang, otot pada bagian yg sakit bergetar seperti blender.
Yang mengejutkan adalah 4 minggu setelah operasi, setelah jahitan dibuka, dokter meminta saya untuk menekukkan kaki. Ternyata lutut saya terlalu lama tidak digerakkan dan menjadi kaku sehingga tidak bisa ditekuk. Lalu dokter merujuk saya untuk langsung dilakukan fisiotherapy.
Dan saat fisiotherapy inilah saya merasakan sakit yang luar biasa. Pertama, kaki bagian yang patah dan lutut, diolesi gel sambil diurut secara perlahan. Kemudian diberikan stimulasi listrik arus rendah untuk melemaskan otot yang kaku sekitar 20menit. Setelah itu dalam posisi telungkup kaki dilipat secara paksa dan bertahap. Rasanya seperti akan dipatahkan lagi, dan yang mengesalkan adalah suster tidak memperdulikan ekspresi rasa sakit saya. Saat itu kaki saya hanya bisa dilipat 20% dari maksimal/seharunya. Saya dianjurkan untuk melakukan fisiotherapi setiap 2 kali dalam seminggu. Tetapi karena saya tidak ingin merasakan rasa sakit yg sama, saya tidak pernah kembali ke rumah sakit dan melakukannya sendiri dibantu isteri di rumah.
Setiap hari saya melakukan latihan, baik latihan melipat lutut ataupun berjalan dengan tongkat 3 kali sehari. Alhamdulillah tanggal 20 Januari 2017 tepat 2 bulan dari kecelakaan, kaki saya dapat ditekuk seperti semula dan saya sudah bisa menggunakan 1 tongkat untuk berjalan dan sudah bisa dibonceng dengan sepeda motor matic.
Saya memutuskan untuk mulai bekerja kembali pada tanggal 23 Januari 2017. Kebetulan saya bekerja di dalam kantor dan tidak banyak aktifitas yang mengharuskan berjalan. Setiap hari saya diantar jemput oleh isteri saya yang selalu setia dan menyemangati saya supaya bisa kembali berjalan normal. Awalnya saya bekerja dengan membawa 2 tongkat, satu minggu kemudian saya menggunakan 1 tongkat, setelah sebulan bekerja saya mengganti tongkat yang sebelumnya panjang sampai ketiak dengan tongkat pendek yang sampai siku.
Untuk jarak kurang dari 50 meter saya sudah memberanikan berjalan tanpa tongkat meskipun terasa ngilu. Mungkin karena saya sudah tidak sabar berjalan normal. Pada minggu terakhir bulan Februari, meskipun isteri melarang, saya memutuskan untuk berkendara sendiri dengan sepeda motor matic karena saya merasa kasihan dan tidak tega pada isteri saya yang selalu terlihat kelelahan. Tapi ternyata itu keputusan yang tidak baik untuk saya. Hari pertama saya berkendara, saya menabrak mobil yang mengerem mendadak dan secara spontan/refleks, kaki saya menapak dengan kuat menahan badan dan sepeda motor agar tidak terjatuh. Motor rusak cukup parah tapi saya bersyukur tidak merasa sakit pada kaki yang dalam masa penyembuhan.
Kemudian pada tanggal 26 Februari 2017 sepulang kerja menuju rumah, ketika berkendara di belakang sebuah mobil, motor yang saya kendarai menghantam lubang yang besar dan impact nya terasa sangat kuat. Saya merasakan sakit di bagian paha yang patah, besoknya saya tetap bekerja seperti biasa dan rasa sakitnya sudah hilang.
Tanggal 28 Februari 2017 selepas makan siang ketika saya berjalan kembali menuju kantor dengan 1 tongkat siku, tiba-tiba kaki saya sebelah kanan tidak dapat menumpu di lantai dan terasa lebih pendek dari kaki kiri. Tanpa rasa sakit dan tidak saya pesulikan, saya melanjutkan bekerja seperti biasa. 2 jam kemudian saya bermaksud untuk berjalan mengambil kertas hasil print dari komputer saya, saya merasa ada yang aneh. Kaki kanan saya tidak bisa menahan beban saya dan terasa lebih pendek. Takut terjadi sesuatu dengan kaki saya, saya menuju toilet untuk mengecek. Kaget bukan kepalang ketika membuka celana, kaki kanan saya membengkak seperti waktu sebelum operasi. Lalu saya kembali ke ruangan kerja dan duduk di lantai dan meluluskan kaki dan benar, kaki saya terlihat panjang sebelah.
Tanggal 1 Maret 2017 saya menghubungi rumah sakit untuk menanyakan kapan dokter yang melakukan operasi pada saya datang/praktek. Besoknya saya datang ke rumah sakit untuk menceritakan kejadian yang baru saya alami dan minta diperiksa oleh dokter. Setelah saya bercerita semuanya, dokter meminta saya untuk naik ke tempat tidur dan ketika saya hendak mengangkat kaki, terdengar bunyi "TAK" seketika paha saya bengkok, sakit, dan terlihat ada yang menonjol. Dokter langsung berkata "Yah... Patah itu mas. Patah lagi" lalu dokter langsung meminta assistant untuk saya dilakukan rontgent dan dirawat inap.
Rasa sakitnya tidak begitu penting. Yang paling melemahkan mental saya adalah menerima kaki saya patah lagi dan semuanya harus dimulai dari nol lagi. Dan ternyata pen yang dipasang patah terlebih dahulu sebelum akhirnya tulang yang baru tumbuh belum kuat menopang tubuh saya kembali patah.
Pada tanggal 6 Maret 2017 saya kembali dilakukan operasi. Kali ini untuk melepaskan pen yang patah dan menggantinya dengan pen yang baru. Pen tidak dapat diganti dengan model yang sama dan harua diganti dengan model yang lebih kuat yaitu yang dipasang didalam tulang menembus sumsum.
Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Saya sempat bingung ketika setelah dibius saya tidak pingsan atau tidur. Sepenuhnya saya dalam kondisi sadar selama dilakukan operasi, hanya saja saya tidak dapat mersakan sebagian badan mulai dari perut sampai ujung kaki. Operasi berjalan sekitar 3 jam. Walau tidak merasakan sakit saat operasi, saya seperti bermimpi melihat orang-orang disekitar berlumuran darah dan ekspresi mereka ketika menancapkan batang besi kedalan tulang paha saya.
Tidak seperti operasi sebelumnya, kali ini saya merasakan luka operasi sangat sakit luarbiasa. Saya merintih hampir sepanjang hari dan malam, tidak ingin makan selama tiga hari sampai dosis analgesik / penghilang rasa sakit ditambahkan tiga kali lipat. Setelah seminggu, dokter menyarankan saya untuk pulang dan saya mengiyakan. Tetapi tanpa sepengetahuan dokter saya meminta pihak rumahsakit agar saya tetap dirawat karena masih merasakan sakit dan perih pada luka jahitan operasi. Selain itu saya belum bisa bergerak ataupun bergeser posisi tidur karena untuk pemasangan pen yang baru sayatan lebih panjang sampai bagian pinggang.
Akhirnya setelah Sepuluh hari, saya memutuskan untuk pulang. Selain sudah bisa duduk, sudah bisa ke toilet dan berjalan dengan tongkat, saya juga sudah tidak betah berada di rumah sakit. apalagi dengan makanannya yang hambar.
Sampai saat ini sudah 25 hari pasca operasi dan saya sudah merasa fit kembali dengan tetap menanam semangat dalam diri saya. Pen kali ini terasa lebih ringan dan lebih kuat. Tidak putus saya berdoa untuk cepat sembuh dan selalu berterimakasih kepada semua yang mensupport saya terutama isteri dan keluarga saya.
Mudah-mudahan cerita saya dapat bermanfaat memberikan gambaran untuk mengambil keputusan atau langkah mana yang akan diambil dan motivasi untuk tetap menjalani hidup dalam kondisi tersulit apapun. Karena tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Informasi tambahan:
TKP : Flyover Patal Senayan
RS : Medika Permata Hijau
Dr. Saraf : Dr. Nadia
Dr. Spb. Ot : Dr. Kisli
Operasi pemasangan pen pertama dan biaya perawatan : 30,000,000 Rp.
Operasi kedua pelepasan dan penggantian pen : 25,000,000 Rp.
Harga Pen pertama (Orif) Titanium : 18,800,000 Rp.
Harga Pen kedua (Flexy Nail) Titanium : 15,000,000 Rp.
Kesempatan kali ini saya ingin menuturkan atau berbagi pengalaman tentang musibah yang saya alami. Semoga bermanfaat memberikan gambaran untuk memilih tindakan.
Saya telah mengalami kecelakaan sepeda motor pada tanggal 20 November 2016 pukul 07.00 WIB. di fly over arah permata hijau menuju senayan Jakarta. Saat itu saya berangkat dari Pamulang untuk mengantar isteri saya bekerja di ITC Permata Hijau lalu saya melanjutkan perjalanan untuk berolahraga ke Gelora Bung Karno Senayan.
Setelah terjadi kecelakaan, saya baru tersadar tanggal 22 November 2016 sekitar pukul 10 pagi. Ketika tersadar saya sudah berada di ruang perawatan Rumah Sakit ditunggui oleh isteri saya. Seketika saya shock dan bertanya berulang kali "Aku dimana, kaki aku kenapa?" Saat itu kaki saya sudah dibidai dengan tiga bilah papan. Isteri saya hanya bisa menjawab dengan menangis "Yang sabar ya sayang, paha kamu patah. Hari ini kamu akan dioperasi untuk pemasangan pen".
Saya tidak bisa merespon ucapan isteri saya karena hanya bisa merintih merasakan sakitnya kaki kanan saya.
![]() |
| Foto Saat di IGD |
![]() |
| Foto Rontgent sebelum operasi |
Tidak lama kemudian datang seorang dokter yang ternyata seorang dokter spesialis saraf. Setelah menemui isteri saya, dokter itu bertanya pada saya: "Pak, kejadiannya dimana, lagi apa, mau kemana? Berkali-kali pertanyaan itu dikatakan, saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak ingat sama sekali. Setelah berusaha mengingat, sama sekali tidak ada gambaran apa yang terjadi sebelumnya pada saya, akhirnya sambil terus merintih saya hanya berkata "Nggak tau...".
Setelah beberapa pertanyaan lainnya, dokter menyatakan saya mengalami amnesia ringan, lebih tepatnya saya kehilangan ingatan mulai 1 jam sebelum terjadi kecelakaan sampai saya tersadar pada hari itu. Kemudian saya langsung diberikan tindakan CT-Scan pada kepala secara keseluruhan dan Alhamdulillah dokter menyampaikan bahwa otak, dan jaringan saraf semuanya dalam kondisi baik.
Sekitar pukul 3 Sore, datang adik-adik saya dan keluarga yang lain. Mereka semua menyarankan agar saya tidak dioperasi dan dibawa ke dukun ahli patah tulang saja dengan alasan biaya yang terjangkau dan biasanya lebih cepat sembuh. Tetapi saya menolak karena ada luka sobek pada kulit di bagian luar tulang paha yang patah. Selain itu saya terbayang rasa sakit yang luar biasa yang pernah saya alami saat pengobatan patah tulang kelangka (bahu) kanan saya yang pernah patah juga. Ketika itu bulan Oktober 2011 saya berobat di H. Naim. Memang sembuh dengan cepat dan dalam 1 bulan saya sudah tidak merasakan sakit dan beraktifitas normal kembali.
Tidak lama kemudian, saat kami sedang membahas hal tersebut, datang dokter yang akan melakukan operasi pembedahan tulang kepada saya (dokter spesialis bedah orthopaedi). Kakak ipar saya langsung bertanya kepada dokter tsb. "Gimana kalo gak dioperasi dok?" Dengan tegas dokter menjawab "Jangan. Kasihan masnya masih muda, kalo di tukang urut tulangnya bisa nyambung lagi tapi belum tentu bisa seperti semula. Kebanyakan yang diobati di dukun patah tulang itu kakinya jadi pendek sebelah atau nyambungnya melintir. Jadi jangan. Kasihan masnya masih muda." Itulah jawaban dokter yang sangat meyakinkan.
Pukul 7 malam pada hari itu juga, saya dijemput beberapa suster untuk dibawa ke ruang operasi. Saat itu saya dalam pengaruh obat penahan rasa sakit yang menyebabkan saya dalam kondisi setengah sadar, bahkan saya tidak sadar saat meninggalkan kamar perawatan. Sampai besok paginya pukul 9 pagi, saya baru bangun dan ternyata kaki saya sudah selesai dioperasi mulai pukul 7 sampai pukul 11 semalam.
![]() |
| Foto Rontgent Pasca Operasi |
![]() |
| Foto jahitan 1bulan pasca operasi |
4 hari setelah operasi saya diajarkan untuk menggunakan tongkat dan langsung bisa. Tanggal 26 November 2016 saya pulang dari rumah sakit dan harus bedrest selama masa penyembuhan di rumah.
Rasa sakit hanya saya rasakan pada saat bangun tidur sekitar pukul 5 subuh. Sakit itu bukan karena jahitan atau sayatan luka operasi tetapi kontraksi otot seperti berusaha ke bentuk semula. Saking kencangnya otot dipaha meregang, otot pada bagian yg sakit bergetar seperti blender.
Yang mengejutkan adalah 4 minggu setelah operasi, setelah jahitan dibuka, dokter meminta saya untuk menekukkan kaki. Ternyata lutut saya terlalu lama tidak digerakkan dan menjadi kaku sehingga tidak bisa ditekuk. Lalu dokter merujuk saya untuk langsung dilakukan fisiotherapy.
Dan saat fisiotherapy inilah saya merasakan sakit yang luar biasa. Pertama, kaki bagian yang patah dan lutut, diolesi gel sambil diurut secara perlahan. Kemudian diberikan stimulasi listrik arus rendah untuk melemaskan otot yang kaku sekitar 20menit. Setelah itu dalam posisi telungkup kaki dilipat secara paksa dan bertahap. Rasanya seperti akan dipatahkan lagi, dan yang mengesalkan adalah suster tidak memperdulikan ekspresi rasa sakit saya. Saat itu kaki saya hanya bisa dilipat 20% dari maksimal/seharunya. Saya dianjurkan untuk melakukan fisiotherapi setiap 2 kali dalam seminggu. Tetapi karena saya tidak ingin merasakan rasa sakit yg sama, saya tidak pernah kembali ke rumah sakit dan melakukannya sendiri dibantu isteri di rumah.
Setiap hari saya melakukan latihan, baik latihan melipat lutut ataupun berjalan dengan tongkat 3 kali sehari. Alhamdulillah tanggal 20 Januari 2017 tepat 2 bulan dari kecelakaan, kaki saya dapat ditekuk seperti semula dan saya sudah bisa menggunakan 1 tongkat untuk berjalan dan sudah bisa dibonceng dengan sepeda motor matic.
Saya memutuskan untuk mulai bekerja kembali pada tanggal 23 Januari 2017. Kebetulan saya bekerja di dalam kantor dan tidak banyak aktifitas yang mengharuskan berjalan. Setiap hari saya diantar jemput oleh isteri saya yang selalu setia dan menyemangati saya supaya bisa kembali berjalan normal. Awalnya saya bekerja dengan membawa 2 tongkat, satu minggu kemudian saya menggunakan 1 tongkat, setelah sebulan bekerja saya mengganti tongkat yang sebelumnya panjang sampai ketiak dengan tongkat pendek yang sampai siku.
Untuk jarak kurang dari 50 meter saya sudah memberanikan berjalan tanpa tongkat meskipun terasa ngilu. Mungkin karena saya sudah tidak sabar berjalan normal. Pada minggu terakhir bulan Februari, meskipun isteri melarang, saya memutuskan untuk berkendara sendiri dengan sepeda motor matic karena saya merasa kasihan dan tidak tega pada isteri saya yang selalu terlihat kelelahan. Tapi ternyata itu keputusan yang tidak baik untuk saya. Hari pertama saya berkendara, saya menabrak mobil yang mengerem mendadak dan secara spontan/refleks, kaki saya menapak dengan kuat menahan badan dan sepeda motor agar tidak terjatuh. Motor rusak cukup parah tapi saya bersyukur tidak merasa sakit pada kaki yang dalam masa penyembuhan.
Kemudian pada tanggal 26 Februari 2017 sepulang kerja menuju rumah, ketika berkendara di belakang sebuah mobil, motor yang saya kendarai menghantam lubang yang besar dan impact nya terasa sangat kuat. Saya merasakan sakit di bagian paha yang patah, besoknya saya tetap bekerja seperti biasa dan rasa sakitnya sudah hilang.
Tanggal 28 Februari 2017 selepas makan siang ketika saya berjalan kembali menuju kantor dengan 1 tongkat siku, tiba-tiba kaki saya sebelah kanan tidak dapat menumpu di lantai dan terasa lebih pendek dari kaki kiri. Tanpa rasa sakit dan tidak saya pesulikan, saya melanjutkan bekerja seperti biasa. 2 jam kemudian saya bermaksud untuk berjalan mengambil kertas hasil print dari komputer saya, saya merasa ada yang aneh. Kaki kanan saya tidak bisa menahan beban saya dan terasa lebih pendek. Takut terjadi sesuatu dengan kaki saya, saya menuju toilet untuk mengecek. Kaget bukan kepalang ketika membuka celana, kaki kanan saya membengkak seperti waktu sebelum operasi. Lalu saya kembali ke ruangan kerja dan duduk di lantai dan meluluskan kaki dan benar, kaki saya terlihat panjang sebelah.
Tanggal 1 Maret 2017 saya menghubungi rumah sakit untuk menanyakan kapan dokter yang melakukan operasi pada saya datang/praktek. Besoknya saya datang ke rumah sakit untuk menceritakan kejadian yang baru saya alami dan minta diperiksa oleh dokter. Setelah saya bercerita semuanya, dokter meminta saya untuk naik ke tempat tidur dan ketika saya hendak mengangkat kaki, terdengar bunyi "TAK" seketika paha saya bengkok, sakit, dan terlihat ada yang menonjol. Dokter langsung berkata "Yah... Patah itu mas. Patah lagi" lalu dokter langsung meminta assistant untuk saya dilakukan rontgent dan dirawat inap.
Rasa sakitnya tidak begitu penting. Yang paling melemahkan mental saya adalah menerima kaki saya patah lagi dan semuanya harus dimulai dari nol lagi. Dan ternyata pen yang dipasang patah terlebih dahulu sebelum akhirnya tulang yang baru tumbuh belum kuat menopang tubuh saya kembali patah.
![]() |
| Foto Kaki memendek |
![]() |
| Foto Rongent Pen dan tulang patah |
Pada tanggal 6 Maret 2017 saya kembali dilakukan operasi. Kali ini untuk melepaskan pen yang patah dan menggantinya dengan pen yang baru. Pen tidak dapat diganti dengan model yang sama dan harua diganti dengan model yang lebih kuat yaitu yang dipasang didalam tulang menembus sumsum.
Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Saya sempat bingung ketika setelah dibius saya tidak pingsan atau tidur. Sepenuhnya saya dalam kondisi sadar selama dilakukan operasi, hanya saja saya tidak dapat mersakan sebagian badan mulai dari perut sampai ujung kaki. Operasi berjalan sekitar 3 jam. Walau tidak merasakan sakit saat operasi, saya seperti bermimpi melihat orang-orang disekitar berlumuran darah dan ekspresi mereka ketika menancapkan batang besi kedalan tulang paha saya.
Tidak seperti operasi sebelumnya, kali ini saya merasakan luka operasi sangat sakit luarbiasa. Saya merintih hampir sepanjang hari dan malam, tidak ingin makan selama tiga hari sampai dosis analgesik / penghilang rasa sakit ditambahkan tiga kali lipat. Setelah seminggu, dokter menyarankan saya untuk pulang dan saya mengiyakan. Tetapi tanpa sepengetahuan dokter saya meminta pihak rumahsakit agar saya tetap dirawat karena masih merasakan sakit dan perih pada luka jahitan operasi. Selain itu saya belum bisa bergerak ataupun bergeser posisi tidur karena untuk pemasangan pen yang baru sayatan lebih panjang sampai bagian pinggang.
![]() |
| Foto Rontgent pen baru |
Akhirnya setelah Sepuluh hari, saya memutuskan untuk pulang. Selain sudah bisa duduk, sudah bisa ke toilet dan berjalan dengan tongkat, saya juga sudah tidak betah berada di rumah sakit. apalagi dengan makanannya yang hambar.
Sampai saat ini sudah 25 hari pasca operasi dan saya sudah merasa fit kembali dengan tetap menanam semangat dalam diri saya. Pen kali ini terasa lebih ringan dan lebih kuat. Tidak putus saya berdoa untuk cepat sembuh dan selalu berterimakasih kepada semua yang mensupport saya terutama isteri dan keluarga saya.
Mudah-mudahan cerita saya dapat bermanfaat memberikan gambaran untuk mengambil keputusan atau langkah mana yang akan diambil dan motivasi untuk tetap menjalani hidup dalam kondisi tersulit apapun. Karena tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Informasi tambahan:
TKP : Flyover Patal Senayan
RS : Medika Permata Hijau
Dr. Saraf : Dr. Nadia
Dr. Spb. Ot : Dr. Kisli
Operasi pemasangan pen pertama dan biaya perawatan : 30,000,000 Rp.
Operasi kedua pelepasan dan penggantian pen : 25,000,000 Rp.
Harga Pen pertama (Orif) Titanium : 18,800,000 Rp.
Harga Pen kedua (Flexy Nail) Titanium : 15,000,000 Rp.







Komentar
Posting Komentar